Januari 3, 2026
EkonomiInternasionalNasionalUMKM

Dari Dapur Sukabumi ke Brunei: Cerita Opak Singkong yang Menembus Pasar Internasional

Di sebuah dapur sederhana di Sukabumi, aroma gurih singkong yang baru saja dijemur bercampur dengan semangat para pekerja yang tengah menyiapkan adonan. Di tangan mereka, lembaran-lembaran opak tipis itu bukan sekadar camilan — melainkan simbol perjuangan dan kebanggaan daerah yang kini terbang hingga ke Brunei Darussalam.

Adalah Ade Sulistiyowati, pemilik UMKM Yammy Babe, yang menjadi tokoh utama di balik kesuksesan ini. Dari usaha rumahan yang dulu hanya melayani pesanan lokal, kini ia berhasil menembus pasar ekspor. Sebanyak 28.880 bungkus opak — sekitar 2 ton — resmi dikirim ke Brunei pada Kamis (9/10/2025).

“Bahan bakunya kami ambil dari singkong manggu asli Sukabumi, rasanya manis dan teksturnya renyah. Semua pekerja juga warga sekitar,” ujar Ade sambil tersenyum. Kini, 20 orang pekerja tetap dan 25 pelajar membantu produksi setiap harinya dengan kapasitas mencapai 150 kilogram opak per hari.

Kisah sukses ini tidak datang begitu saja. Ade adalah salah satu penerima manfaat Program Kumitra dari Kementerian Koperasi dan UMKM (KemenKopUKM) — sebuah program yang menghubungkan pelaku usaha mikro dengan pembeli besar, baik dalam maupun luar negeri.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan, tantangan terbesar UMKM selama ini adalah kepastian pasar. “Produknya ada, tapi pembelinya tidak selalu jelas. Kumitra hadir untuk memastikan produk UMKM tidak berhenti di gudang,” jelasnya.

Melalui program ini, para pelaku usaha mendapat pendampingan, peningkatan mutu, hingga jaminan off-taker (pembeli tetap). Dengan begitu, perbankan pun lebih percaya untuk memberikan pembiayaan.

Tak berhenti di sana, kolaborasi juga dilakukan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) agar lebih banyak perempuan dan penyandang disabilitas ikut serta dalam rantai produksi. “Kami ingin UMKM tidak hanya kuat secara bisnis, tapi juga inklusif,” tutur Menteri PPPA Arifah Fauzi.

Dari sisi pemerintah daerah, Walikota Sukabumi Ayep Zaki melihat ekspor opak ini sebagai tonggak sejarah baru. “Ini bukti nyata bahwa pelaku usaha kecil di daerah bisa bersaing di pasar global,” katanya. Ia berkomitmen menjadikan Sukabumi sebagai contoh kota yang mampu mengembangkan UMKM dari skala ultra mikro hingga siap ekspor.

Kini, omzet Ade melonjak hingga Rp300 juta per bulan, enam kali lipat dari sebelumnya. Namun, yang lebih membanggakan baginya bukanlah angka, melainkan nama Sukabumi yang kini dikenal di luar negeri.

“Kalau dulu saya cuma ingin produk ini dikenal di pasar lokal, sekarang harapan saya sederhana: semoga opak ini bisa jadi oleh-oleh khas Indonesia yang mendunia,” ujarnya penuh haru.

Dari dapur kecil di Sukabumi, cita rasa tradisional itu kini menembus batas negara. Sebuah bukti bahwa semangat, kolaborasi, dan dukungan yang tepat dapat mengubah camilan sederhana menjadi kisah sukses internasional. (SR)

Related posts

Samsat Kota Sukabumi Tingkatkan Layanan Mutasi Masuk Kendaraan Bermotor Sesuai UU No. 22 Tahun 2009

Redaksi FaktaBerita.id

Pelayanan BPKB di Samsat Sukabumi Makin Transparan Berkat Polantas Menyapa.

Redaksi FaktaBerita.id

Polres Sukabumi Kota Ungkap Jaringan Pengedar Obat Keras Ilegal, 3 Tersangka Dibekuk dan Ribuan Butir Disita

faktaid

Leave a Comment